Sedekah Bumi di Sumberjaya Masuk Tahun ke-9, Warga Berebut Hasil Gunungan

Tren IDN, Bekasi — Tradisi Sedekah Bumi kembali digelar di Kampung Buwek, Desa Sumberjaya, Kabupaten Bekasi, Senin (17/8/2026) sore.

Kegiatan yang diprakarsai tokoh masyarakat Sumberjaya, H. Nyamat, itu sekaligus menjadi bagian dari peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.

Sedekah bumi tersebut telah menjadi tradisi tahunan dan tahun ini memasuki pelaksanaan yang kesembilan.

Dalam kegiatan itu, warga mempersembahkan hasil alam berupa buah-buahan, sayuran hingga ikan lele sebagai wujud rasa syukur atas keberkahan alam.

H. Nyamat mengatakan, momentum kemerdekaan dipilih karena kegiatan tersebut sekaligus menjadi sarana mengenang jasa para pahlawan.

“Memang kita bersyukur pas sudah merdeka. Momentum itu pas acara 17 Agustus mengenang para pahlawan kita juga dan bersyukur sama alam yang sudah memberikan kita begitu banyak oksigen dan keberkahan,” ujar Nyamat.

Tahun ini terdapat lima gunungan hasil bumi yang disiapkan. Masing-masing gunungan memiliki berat sekitar 150 kilogram dan berisi berbagai hasil pertanian serta perkebunan dari wilayah Sumberjaya.

Di antaranya kecapi, jeruk, salak, pisang, terong, kacang panjang, ketimun dan berbagai sayuran lainnya.

Selain gunungan, sebanyak 810 kilogram ikan lele juga ditebar di pinggir kali untuk masyarakat.

Menurut Nyamat, antusiasme masyarakat terhadap tradisi tersebut cukup tinggi. Bahkan, hasil bumi yang disiapkan langsung habis diambil warga sebelum rangkaian doa dimulai.

“Antusiasmenya sangat tinggi. Sebelum acara, sebelum doa, sudah langsung habis digerbek seperti itu,” ungkapnya.

Pelaksanaan tahun ini turut dipengaruhi kondisi cuaca. Musim kemarau yang berlangsung cukup panjang membuat hasil buah tidak sebanyak tahun sebelumnya.

Sementara hasil padi juga belum maksimal karena belum memasuki masa panen dan terdampak kekeringan.

Meski begitu, masih banyak hasil alam yang dapat dipersembahkan dalam tradisi tersebut.

Persiapan sedekah bumi dilakukan selama sekitar empat hari. Tradisi ini sebelumnya biasa digelar pada momentum Satu Muharam, tetapi kemudian dipindahkan ke bulan Agustus setelah adanya permintaan dari masyarakat.

Nyamat berharap tradisi tersebut terus berkembang dan pada tahun-tahun berikutnya semakin banyak gunungan serta hasil panen yang dapat dipersembahkan kepada masyarakat. ***


Eksplorasi konten lain dari Tren IDN

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Eksplorasi konten lain dari Tren IDN

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca